Wednesday

99 Untuk Arsitek : Pre Launch








































Buku untuk 'sesama arsitek'. Berisi 99 tulisan ringan, mencakup segi hubungan dengan klien, marketing, desain, dan pengembangan diri arsitek. Hadir pertengahan-akhir November di toko buku.

Enjoy!

www.99untukarsitek.com

Note:

Buat yang mahasiswa, mohon bantuannya, untuk teman "himpunan/student body" mahasiswa arsitektur, menghubungi saya di raulrenanda@yahoo.com untuk free copies dan bantu menyalurkan buku ini ke teman2 mahasiswa lainnya. Juga untuk jadwal "kuliah umum/workshop/presentasi di kampus anda" (jakarta-bandung)

Thursday

Karya Arsitek Di Koran Media Indonesia Sabtu (setiap minggu ke2 tiap bulannya)


















Kita dapat melihat karya-karya rumah tinggal yang didesain oleh para desainer muda.

Pada rubrik "Arsitektur" yang muncul di koran Media Indonesia Sabtu, yang ditampilkan setiap minggu ke 2 setiap bulannya, juga akan memberikan gambar Denah, Tampak dan Potongan dari setiap proyek yang ditampilkan.

Untuk kita yang ingin membangun rumah, gambar ini bisa untuk menjadi bahan acuan ide-ide yang berhubungan dengan tata layout ruang dan style arsitektur.

Dan untuk para mahasiswa dan arsitek muda, karya yang ditampilkan dapat digunakan untuk bahan belajar atau perbandingan.

Berikut gambar-gambar yang pernah ditampilkan karya Dedy R, Sonny P, Mono, Agus S dan Agung W. Untuk mendapatkan gambar-gambar yang lebih detail, dapat kita download diwww.renanda.com/arsitektur

Enjoy!



































Monday

Rumah Karya Teman Kita : Mono


















Desain rumah (denah/tampak/potongan/RAB) ini dapat didownload di www.renanda.com/arsitektur

Konten di publish di Media Indonesia Sabtu (ada rubrik arsitektur setiap minggu ke 2 yang saya 'asuh'), liat di e-paper (cari tanggal 14 februari dan 14 maret 09) disini

Mono adalah seorang arsitek yang juga aktif menjadi kontraktor. Pengalaman ia didunia ‘kontraktor’ membuat ia lebih mengerti efektifitas, baik dari segi teknik membangun maupun dari sisi dana yang dikeluarkan. Untuk rumah tinggal besar atau mewah, sisi efektifitas biaya tidak lah menjadi perhatian utama dari sang pemilik rumah, namun untuk desain rumah kecil, dimana dana sang pemilik rumah cukup terbatas, atau desain rumah tinggal untuk di’jual’ kembali, faktor dana menjadi hal yang sangat sensitif.

Konsep yang menarik dari desain rumah ini adalah penggunaan ruang garasi rumah yang dapat ‘berganti’ fungsi di siang hari. Mono berasumsi bahwa, pada umumnya, kendaraan roda empat, hanya perlu didalam garasi rumah pada malam hari saja, di siang hari, sang kendaraan sering berada diluar rumah, atau dapat di ‘parkir’kan di area terbuka, atau didepan rumah. Dengan konsep seperti ini, maka, ada area ruang keluarga terdapat penhubung yang cukup besar , sehingga kesan pembatas antara kedua dapat dihilangkan. Material yang digunakan untuk ruang garasi ini pun dapat ‘setara’ dengan ruang keluarga ini. Konsep ini dapat dilakukan dengan baik, terutama bila kita mengansumsikan bahwa ruang garasi adalah perluasan ruang keluarga.

Lantai atas dibuat untuk menjadi area kamar tidur dengan ukuran yang nyaman. Mono beranggapan bahwa kebanyakan para ‘developer’ memberikan desain kamar tidur yang terlalu kecil pada kenyataan dilapangan, memang untuk brosur, para pengembang ingin desain rumah terasa lapang dengan mendesain kamar yang ukurannya sangat terbatas, namun untuk kita sang pemilik rumah, tentu kegiatan kita pun cukup banyak dilakukan di kamar tidur, maka tentunya semakin luas kamar tidur tersebut, semakin baik tentunya.

Karena pada umumnya rumah kecil ini dibuat dengan pertimbangan ekonomi, maka sebaiknya, elemen ‘pemanis desain’ berada di ‘facade’ (tampak depan) bangunan. Penggunaan material campuran dari plesteran yang murah dengan material khusus seperti batu alam dapat kita kombinasikan. Nomer rumah pun, bisa kita buat seakan-akan menjadi bagian dari desain yang dapat mempercantik tampak depan rumah kita. Bila kita suka dengan elemen material dari bahan kayu, dapat kita gunakan di beberapa area, terutama yang tidak langsung terkena dengan sinar matahari atau air hujan, sehingga lebih awet.

Desain rumah ini pun terlihat asri dan menarik untuk proyek kompleks perumahan, pengolahan warna dan permainan material batu yang berbeda-beda, dapat membuat rumah-rumah ini tidak berkesan monoton.

Thursday

Me! on Seth Godin's Book!









Sudah lama punya buku ini, tetapi akhir-akhir ini ingin membaca lagi untuk bahan seminar, dan ternyata ada banyak foto-foto 'penggemar' Seth Godin dibalik covernya (versi hardcover), dan iseng liat-liat dan ternyata 'pak Godin' juga memasukkan foto saya diantara sekian banyak orang.

Konyol memang, fotonya kecil sekali, tidak sampai 1x1 cm, namun saya gak boleh bohong, rasanya senang banget!!

Kadang small things buat satu orang (dalam hal ini Seth) adalah big things buat orang lain. 

Teman-teman saya bertanya, kenapa saya hampir setiap hari mau meladeni pertanyaan dari mahasiswa, arsitek muda, dan para pemilik rumah? yah, alasannya sama, 5 menit saya luangkan waktu saja, semoga dapat membantu, mahasiswa bisa menyelesaikan tugasnya, arsitek muda jadi punya semangat lagi, dan para pemilik rumah, 'terselamat'kan keindahan, dan mungkin penghematan dana.

Buat para pembaca yang merasa saya tidak balas emailnya, saya mohon maaf, kadang ada yang masuk kedalam spam letter (sial memang), ada juga yang saya terlewatnya (banyak pertanyaan setiap harinya), ada juga yang memang tidak sempat saya balas, dan tentunya, ada juga yang saya gak ngerti apa pertanyaannya. Hal ini biasa terjadi.

Niat baik selalu ada. Jangan kapok, dan mohon maaf sebelumnya

Thanks buat supportnya!

Info tentang buku Tribes dari Seth Godin

Wednesday

Gunakan material yang tidak umum...
















Parket hanya untuk lantai? kenapa tidak kita coba menjadi material dinding atau ceiling?
Bagaimana bila wajan (wok) kita buat jadi penutup lampu?
"blok mesin" (engine) rasanya menarik juga untuk jadi 'kaki' meja...
Bangku mobil, bisa juga rasanya disulap jadi bangku kerja...
CD yang rusak, bisa menarik juga jadi hiasan dinding, terutama bagian 'glossy' nya...

Tidak ada yang 'harus' bila kita bicara kreatifitas, apalagi untuk interior, kita bisa membuat sesuatu yang tidak umum, menjadi sesuatu yang istimewa...

Foto diatas adalah interior kantor menggunakan 'cardboard'..

silakan kita liat disini...

Saturday

Rumah Mewah (superhouse) bukanlah Rumah "boros"




















Betul, memang beberapa diantara klien saya menginginkan sebuah desain rumah yang budgetnya 'bikin orang sakit perut' mendengarnya.

Namun, saya merasakan adanya 'myth' seakan-akan proyek 'superhouse' tersebut adalah proyek 'buang-buang' uang saja, tidak 'manusiawi' atau memperlebar jurang sosial.

Ditulisan ini jelas saya ingin menghindari soal perdebatan sosial, karena memang bukan 'kompentensi' saya dibidang itu.

Yang ingin saya sampaikan adalah, terdapat perbedaan 'mindset' yang besar tentang 'kemana larinya budget sebesar itu'. Sebuah superhouse dirancang untuk membuat rumah tinggal, dengan kualitas bahan dan desain yang terbaik, dengan perancanaan yang sangat matang dan komprehensif, dibuat dengan kekuatan dan teknologi yang terkini. Rumah tersebut, memang 'mahal' secara kualitas. Biaya yang dikeluarkan, disebabkan faktor-faktor tersebut, bukan 'asal mahal' saja.

Ilustrasi yang paling sederhana adalah, bila kita tengok mobil Rolls Royce, kenapa harganya sebegitu mahal "padahal sama-sama roda 4", karena sang pecipta kendaraan tersebut, membutuhkan tenaga dan material terbaik untuk menghasilkan mobil yang terbaik tersebut. Biaya yang kita keluarkan, bisa saja saya setarakan seperti mobil kelas "kijang" yang kita 'permak' dengan menggunakan banyak 'bling'. Pada roda kita gunakan bahan titanium dengan lapisan mutiara, kemudi dengan hiasan batu berlian, body mobil kita 'cat' dengan menggunakan emas, dsb. mobil "kijang" tersebut, bisa2 menyerupai harga sebuah Rolls Royce.

Mobil 'Kijang-berlian' tadi, itu dapat kita sebut sebagai "rumah boros".
Sementara, sang Rolls Royce adalah "superhouse".

Membuat 'Rumah Boros' adalah langkah yang mudah, pasang dan tempel segala sesuatu yang mahal.

Membuat 'Superhome" adalah langkah yang sangat rumit dan kompleks, bukan bertujuan untuk menciptakan karya yang "mahal", namun bertujuan untuk membuat rumah yang "sempurna".

Iphone diatas adalah "Handphone Boros". (dan lebih mahal dari Rolls Royce)

Thursday

Gucci dan Louis Vuitton
















*This is an old news, buat para pencinta 'branded stuff'. 

DVD tentang Marc Jacobs dan LV, sudah 'lama' saya miliki, namun, baru saja malam ini saya sempatkan melihatnya...

**Yang saya ingin sampaikan disini, adalah, bila kita setuju bahwa 'sentuhan' bakat desainer membuat 'benda' biasa menjadi luar biasa, maka, pilihlah arsitek atau desainer interior yang 'spesial'.

LV sudah jauh lama terkenal seantero dunia, begitu juga dengan Gucci. "perkenalan" saya dengan LV adalah ketika melihat teman saya, waktu itu kita masih di bangku SD, menggunakan dompet yang 'tidak' biasa seperti dompet-dompet lainnya. Saat pertama saya melihat dompet LV itu, masih teringat kental dikepala saya saat ini..sekitar 30 tahun kemudian.

Gucci? jelas sudah meraja lela di Indonesia sejak lama..tidak akan ada yang lupa garis hijau-merah-hijau, sebagai trademark merek tersebut (selain 'double Gs tentunya)...

Masih ingat Charles Jourdan? dulu rasanya hampir setiap orang harus punya tas dengan tekstur khususnya itu (kayaknya ada teman saya yang masih pakai sampai sekarang...amazing)..

Saya bukan pemakai merek-merek tersebut, dan tidak pernah berencana untuk memilikinya (beberapa kali ke toko, tapi gak pernah merasa 'berani' untuk memakainya, love to see, but feels to fancy to wear).

Kita juga pernah tahu, merek2 tersebut pernah hilang...atau, well, basi, boring.

Namun -kembali saya ingatkan saya bukan 'pemakai'-beberapa tahun terakhir ini (tahun 2000an) terasa sekali 'comeback'nya merek2 tersebut. LV menjadi sensasional dengan "grafitti", Gucci tiba2 menjadi "in" kembali...dan Dior, juga dengan Channel, juga 'ikut'2an tampil "beda".

Mereka tidak pernah hilang, hanya saja, 'darah baru' lah yang membuat merek yang sudah sangat establish tersebut menjadi "hip" kembali. Kenapa?

Well, thanks to orang2 seperti Tom Ford dan Marc Jacobs.
 
Intinya adalah, bahkan untuk brand yang sudah establish, kehadiran "desainer spesial" bisa membawa brand tersebut menuju tingkat yang lebih tinggi.

Lalu, apa hubungannya dengan rumah tinggal?

Kita lah pemilik LV, Gucci, Dior.   Meng-hire desainer spesial, bukanlah persoalan yang mudah, mereka itu 'mahal', ingin diperlakukan spesial, ngomong sembarangan...dsb. Tetapi itulah jalan yang harus kita tempuh, agar "benda" kita menjadi spesial.

Keyword, special designer creates special object(s).

Ingin rumah kita spesial? percayakan kepada 'mereka' bila tidak, nasib kita akan seperti..Charles Jourdan.


Sunday

Tamu Arsitek Kita : Dedy Rusli


Review oleh Raul Renanda

 

Rumah ini direncanakan untuk dibangun di tanah dengan luas 500 meter persegi, dengan fungsi 3 kamar tidur dalam 2 lantai. Lantai dasar dibuat suasana terbuka dengan fungsi aktifitas sehari-hari, seperti ruang keluarga, ruang makan, dapur dan ruang tamu. Area service seperti ruang jemur, cuci dan kamar pembantu dibuat terpisah agar privasi pemilik tetap terjaga, sementara di lantai 2 difokuskan untuk menjadi area kamar tidur, untuk 2 orang anak, dan 1 kamar tidur utama. Juga terdapat ruang belajar yang dekat dengan area terbuka yang juga menjadi area tangga utama.

Dedy Rusli, sang arsitek, mengimpikan sebuah rumah yang simpel dan sederhana, memiliki ruang yang dapat dipergunakan disetiap sudutnya. Ia ingin rumah tersebut terasa sangat terbuka, namun tetap terjaga privasinya, hal ini yang menyebabkan taman berada didalam dinding pembatas yang tinggi, sehingga dari arah luar, rumah ini terkesan tertutup namun tidak arogan.

Gaya arsiktektur yang Dedy usung dapat dikatagorikan sebagai desain rumah modern, namun bila dipadukan dengan material-material alami, maka rumah ini pun tidak akan terkesan kaku, apalagi bila nantinya, sang pemilik rumah menggabungkan elemen lansekap yang lebih rindang dan tropikal.

Pada saat ini, orang tidak lagi takut untuk menggunakan desain rumah dengan atap datar, karena, dengan trik tertentu, rumah dengan atap datar tidak selalu berarti rumah yang panas dan mudah bocor. Bahkan dengan menggunakan atap yang datar, pemilik pun sebenarnya, masih dapat menggunakan area atap untuk kegiatan ‘outdoor’ yang dapat dilakukan dimalam hari, untuk digunakan sebagai roof garden untuk acara-acara sosial.

Hal yang terpenting dari mendesain rumah bergaya moderen adalah kesan ringan harus sangat terasa, hidari elemen arsitektural yang terkesan berat dan kokoh. Material dapat dicampur antara material alami dan metal. Struktur dari baja sangat dianjur, untuk memberikan kesan ringan tersebut. Bila masih terasa berat, beberapa elemen ornamental dari kayu dapat digunakan dibagian dinding, terutama di area yang tidak terkena hujan. 


*****

Dedy adalah sarjana arsitek lulusan Universitas Katolik Parahyangan 15 tahun yang lalu, dengan modal pendidikan lokal ia mampu menjadi Associate Architect di konsultan arsitektur Barker Rinker Seacat Architecture di kota Denver di Amerika Serikat. Dedy sudah 10 tahun tinggal dikota tersebut. Sebelumnya ia bekerja di Jakarta, di PT. Atelier 6 Jakarta sejak ia lulus.

Friday

Pada akhirnya, Ini rumah kita juga....

Kembali saya mencoba menganalogikan antara profesi Dokter dengan Desainer rumah tinggal.

Terkadang kita terkejut bila sang Dokter menyarankan menggunakan obat tertentu yang mahal, atau cek laboratorium yang heboh, tentu kembali dengan biaya yang tinggi. Apalagi dengan 'tren' rumah sakit kelas atas yang memang di posisikan sebagai rumah sakit dengan peralatan canggih sekali. Bisa saja, kita berpikir beberapa kali sebelum 'meng-iya-kan' saran tersebut.

"apakah memang diperlukan obat/test tersebut? jangan-jangan ini hanya akal-akalan pihak rumah sakit untuk meraih untung"

Pasien yang berpikir seperti itu, tidak dapat disalahkan, karena memang banyak cerita, yang belum tentu benar juga, tentang 'praktek-praktek' seperti itu. Diseluruh dunia, cerita itu selalu aja ada. 

Tetapi disisi lain, pasien juga kebingungan, bila saya tidak menuruti saran tersebut, apa yang akan terjadi? apakah saya dapat bertambah sakit? atau apakah saya akan sulit sembuh?

Ujung-ujungnya, masalah kepercayaan.

***

Bila sang arsitek atau interior desainer mengusulkan hal yang hampir serupa, material yang mahal, furniture yang 'aneh', jasa konsultan tambahan yang 'gak umum', pasti ada pertanyaan di diri kita, apakah ini cuman akal-akalan mereka saja agar dapat uang tambahan?

Kembali lagi, ujung-ujungnya, adalah masalah kepercayaan. Disisi lain, kita toh tidak mempunyai kewajiban apapun untuk menurutinya. Tinggal masalahnya, harus berani memutuskan, percaya akan rekomendasinya, atau tidak.

Karena, pada akhirnya, itu rumah kita juga.

Seperti anjuran dokter, pada akhirnya, itu tubuh kita juga.

Seperti tawaran orang salon, untuk memakai shampoo tertentu, pada akhirnya, itu rambut kita juga.

Dokter, Hair Dresser, Montir dan Arsitek, hanya dapat memberikan anjuran saja. Kita sebagai pemilik rumahlah yang menentukan, menuruti atau tidak.

Wednesday




















Bila kita ingin bertemu dengan 'calon arsitek' rumah kita, pastikan, bahwa kita akan mempercayakan sepenuhnya kepada sang arsitek, atau kita ingin lebih 'mengontrol' desain rumah tersebut.

Kekeliruan persepsi ini sering terjadi, ada kala kita kecewa karena 'si arsitek keras kepala', tidak mau mengikuti keinginan kita, atau juga terjadi sebaliknya, kita merasa 'si arsitek tidak punya ide', alias selalu menunggu apa maunya kita...

Dua 'jenis' arsitek ini ada. Jangan salah pilih.

;-)




Monday

Just Like Buying Porn Movie....

(Liat videonya disini - matiin musiknya ya..)

Hari ini saya melihat acara favorit saya, Top Gear (www.topgear.com), yang sedang membahas mobil "paling cantik yang pernah dibuat , Alfa Romeo C8

Saya tidak akan bercerita tentang mobilnya, karena tentu kita sedang berbicara tentang desain rumah tinggal, namun ada persamaan diantara keduanya, kita bicara DESAIN.

Jezza (pembawa acara), menceritakan beberapa kekurangan dari mobil ini....yang menurutnya tidak akan pernah menjadi masalah.

Segala kekurangan dari sebuah karya desain, baik dari segi logik seperti fungsi, perawatan, kekuatan dsb, tidak menjadi masalah, bila hati kita sudah 'yangkut'.

Buat Jezza, memikirkan kekurangan mobil Alfa Romeo ini, seperti..

"buying a porn movie, for its plot"

Sebuah desain, termasuk desain rumah tinggal kita, harus berbicara ke hati kita, bukan ke kepala kita. Sebuah rumah yang mengikuti 100% aturan logika, adalah, penjara.

Atau untuk saya, bila kita mengiginkan 'sesuatu' dalam hidup kita, walau hal tersebut melawan semua logika...

That's Love. Design = Love.

Siapa yang menentukan desain? Owner atau Arsitek?

Jawaban yang sesuai kenyataan : Owner.

Kita sebagai pemilik, justru adalah orang yang menentukan bagus tidaknya arsitektur di negeri kita, bukan arsitek.

Kok aneh ya? kan arsitek yang menggambar?

Jawabannya: Tetapi siapa yang memilih arsitek itu?, siapa yang menentukan desain seperti apa yang dipakai? siapa yang menentukan budget dan waktu pelaksanaan? kita sebagai owner yang menentukan.

Bila misalnya kita mengadakan pesta, dan mengundang penyanyi untuk entertain tamu kita, nah, kita lah yang menentukan "siapa" yang menyanyi bukan? jenis musik yang diusung, dan bahkan pada beberapa kondisi, lagu apa yang dinyanyikan...Segala macam musisi ada, segala macam jenis musik ada, segala jenis lagu ada. Tetap kita sebagai "owner" yang menentukan suasana pesta kita.

Jadi, walau kita menghormati para arsitek yang telah mendesain bangunan dengan indahnya, acungan jempol justru harusnya diberikan kepada, sang owner.

Thursday

Setiap Rumah Punya Kepribadian Pemilik...






























Setiap rumah yang kita bikin, adalah cerminan dari diri kita sendiri. Dan setiap desainer yang baik, mengerti akan hal itu. 

Suka atau tidak suka dengan Bentley milik Paris Hilton ini, secara tidak langsung ia menyatakan, memang ini Bentley, tetapi ini Bentley-nya Paris...

Warna pink dari mobil ini, berikut dengan interior dan asesoris lainnya, tidaklah murah, Paris, pasti membayar extra mahal untuk membuat mobil ini 'spesial' di hati nya. 

Rumah kita juga sebenarnya sebuah "pink bentley", yang kita buat khusus agar menjadi bagian dari kita sendiri, namun, juga kita perlu sadari, tidak semua orang bisa mengapresiasikan dengan baik, seperti yang kita harapkan.... 

Monday

Rumah Tipis




















Punya tanah terbatas namun ingin fungsi lebih banyak?

Kita memang aneh, terkadang ingin sekali punya rumah besar, dan mengeluh mahalnya harga tanah. Sebenarnya, option tersebut ada, namun berarti kita harus tinggal jauh dari pusat bisnis. Dahulu, mungkin tidak terlalu jadi masalah, sekarang, selain berurusan dengan macet, biaya transportasi pun menjadi kendala tinggi. 

Tren yang ada justru, kita akan bertahan dilokasi kita berada, atau bahkan ingin mencari tanah yang sangat kecil, namun berada dipusat kota.

Pilihannya adalah membuat rumah 'compact', rumah yang sangat kecil dan "tipis" didalam tanah yang sangat, sangat sempit.

Pola kegiatan pun harus dirubah, kita tidak bisa berharap 'layout' denah berfungsi seperti rumah pada umumnya. Rumah ini harus di desain sedemikian rupa, sehingga bagian dalam dari rumah terintegrasi dengan desain keseluruhannya.

Rumah Kompak ini, tidak selalu berarti rumah murah. Ide rumah ini ideal sekali, terutama bila kita berada didalam lingkungan dimana, biaya pembangunan rumah ini lebih murah dari harga tanah tempat kita berada.

Misalnya, biaya membangun rumah tersebut 3 juta per meter, maka, bila tanah kita berada dilokasi 'utama' dimana tanah kita berharga diatas 3 juta permeter, ide rumah kompak ini, dapat kita terapkan.

"ideal"nya lebar rumah minimum adalah 3.5 meter, namun, seperti yang kita lihat di foto2 ini, terutama di kota2 besar di Jepang (dimana harga tanah selangit), lebih kecilpun, tidak menjadi masalah.

Friday

Mahalnya Fee Arsitek...

Seberapa pun fee arsitek, akan terasa mahal oleh kita bila:
- Kita merasa, tugas seorang arsitek adalah, menggambar denah.
- Kita merasa, sebenarnya tukang atau kontraktor pun bisa membangun rumah.
- Kita merasa, sebenarnya kita juga bisa menggambar denah.
- Kita merasa, si arsitek toh tinggal contoh desain yang ada dimajalah/brosur developer
- Kita merasa, si arsitek nantinya egois dan mengatur keinginan kita.

Sebenarnya, fee arsitek bisa dirasakan sangat murah bila:
- Kita tahu bahwa, sang arsitek justru memperkaya imajinasi rumah impian kita
- Kita tahu bahwa, sang arsitek membantu membuat rumah yang nyaman
- Kita tahu bahwa, dengan desain yang baik, rumah tersebut lebih 'valuable'
- Kita tahu bahwa, rumah tersebut akan menjadi kebanggan kita, dan dipuji oleh teman2

Mungkin 'kelebihan' diatas sifatnya lebih "kualitatif"...bila kita termasuk orang yang perlu "justifikasi" dalam rupiah, maka perhatikan bahwa;

Yang terpenting, biaya pembangunan, justru sebenarnya akan lebih murah karena:
- Menghindarkan kesalahan desain, alias tidak ada bongkar2 setelah terbangun.
- Rumah berfungsi dengan benar, sehingga tidak ada ruang yang tidak terpakai dan boros.
- Menghindari praktek "kontraktor nakal", karena arsitek umumnya mengerti biaya pembangunan yang 'normal'.

Sudah beberapa proyek yang saya tangani,  yang sang klien baru sadar bahwa ia membutuhkan jasa arsitek, dan sudah ditengah 'pembangunan' tanpa bantuan arsitek sama sekali; dimana sang klien baru menyadari pentingnya fungsi 'arsitek profesional' setelah melihat banyaknya kesalahan dilapangan, dan uang terbuang percuma bila tanpa bantuan arsitek handal. 

Prakira saya, tanpa bantuang "saya" atau arsitek lainnya, pemborosan cost bisa mencapai 30%!, saya pernah membantu menyelamatkan biaya pembangunan rumah tinggal dengan biaya 2 milyar rupiah. Bayangkan, uang sebesar itu hampir terbuang percuma...

Sekarang, murah atau mahal kan fee arsitek menurut anda?

Sunday

Input!! Online - Media untuk arsitektur/Interior/Desain untuk Rumah Tinggal

Pada akhir2 ini beberapa tawaran menarik datang kepada saya untuk terlibat di hal 'tulis menulis'. Salah satunya berhubungan dengan "Online Magazine". Sementara ini kami masih menggodok konten yang baik. Tetapi saya sendiri, lebih ingin memberikan kepada 'pembaca' yang mereka butuhkan, ketimbang, apa yang ingin saya sampaikan.

Bila anda membaca tulisan ini dan tertarik untuk memberikan input, seperti apa kira2 kontendari online media ini, please email ke 'desainrenanda@yahoo.com', email tersebut bersifat pasif ya, jadi saya tidak aktif menjawab. Bila ada yang ingin 'berbicang2' dengan saya, bisa melalui 'form contact' yang ada di web saya, www.renanda.com, atau chat langsung di raulrenanda@yahoo.com (messenger).

Note: untuk pembaca yang penasaran "kok buku 'untuk arsitek' tidak keluar2 juga", saya infokan bahwa saya masih menunggu timing yang tepat untuk mengeluarkannya. Sementara saya sudah akan mulai menulis buat 'volume ke2'.

Cheers,

Raul Renanda

Saturday

Handsome vs. Sleek




















Ditulisan saya sebelumnya saya pernah menyinggung tentang desain rumah kita haruslah ada kesan sleek nya, karena memang itu yang menurut saya, kurang dirasakan dalam desain yang ada di negri ini. Sleekness (?)

Barusan saya menonton film Elizabeth:Golden Age, sequel dari Elizabeth.  Walau tidak sebagus yang pertama menurut saya, namun, dari segi produksi, sangat menawan.

Seperti biasanya, bila filmnya menarik, saya langsung liat ke IMDB, untuk cek info tentang film itu, dan baca beberapa review. Ada satu hal yang bagus yang diutarakan oleh si pe-review. Handsome production.

Handsome. bukan cool, bukan great, bukan stylish, bukan grand...tapi Handsome.

Saya tersentak, dan langsung berpikir, memang ada benarnya. Sebuah desain yang baik, bisa Sleek (feminin?) bisa juga Handsome (maskulin?)

Sleek = Ferrari, Handsome = Porsche.

Saya rasa, kata2 'sleek' bila berhubungan dengan desain, dapat berarti, emosional, passionate, adventure, namun juga tidak arogan, dominan...

Sementara Handsome bisa digambarkan, terukur, hati2, intelektual, presisi...

Nah, mungkin desain kita, bisa diartikan "sleek", atau "handsome"?

;-)


Thursday

Waktu Vs. Quality

















Kita tentu sudah terbiasa makan fast food. McD, KFC, dsb. Penyajian cepat dan berkualitas.

Mungkin hampir semua yang kita perlukan, selalu dengan motto, cepat dan berkualitas tadi, sehingga, sungguh sulit buat kita menerima sesuatu yang harus berjalan dengan 'lambat'.

"cepat" atau "lambat" sebenarnya hanyalah sebuah persepsi, mobil saya bisa berkecepatan 170 km bila di push dengan beraninya, cepat sekali, di tol, rasanya mobil2 lain seperti tidak bergerak...

tapi kecepatan yang sangat cepat itu, tidak ada artinya di sirkuit (misalnya) atau diadu dengan sportscar mewah, justru mereka yang akan merasa, mobil saya, 'tidak bergerak'.

Jadi, cepat atau lambat relatif kepada apa yang kita bandingkan. Begitu juga dengan kualitas tentunya. Well, terlepas dari cerita mengenai 'speed', sebenarnya ada hubungannya dengan proyek rumah tinggal kita.

Kita semua mengharapkan rumah kita pun pembangunannya berjalan dengan cepat dan hasilnya berkualitas. Tetapi, sayangnya, rumah kita, bukanlah produk massal.

Rumah yang kita bagun, adalah custom house, atau didisain khusus dan unik "hanya untuk kita". Nah bayangkan bila kita pergi ke McD, dan memesan makanan yang "hanya untuk kita", well, apabila mereka pun mau, pasti lebih lama, karena tidak begitu saja tersedia.

Nah, bila kita di hadapkan kepada pilihan WAKTU vs. KUALITAS, untuk proyek rumah kita, sayangnya, kita harus mementingkan kualitas.

Bila kita baru hendak membangun rumah, saya yakin, kita dengan mantap mejawab, kualitas pasti penting. Namun, biasanya, isu ini baru muncul justru pada momen2 terakhir masa pembangunan. Dimana, pada saat finishing, atau yang berhubungan dengan elemen dekoratif, justru akan berada di fase belakang dan memakan waktu yang lama, karena, pekerjaannya lebih hati2.

Bila proyek kita sudah berjalan 1 tahun, 2 tahun..atau sampai 3 tahun untuk rumah super besar, pertanyaanya, apakah kita masih sanggup menunggunya? perlu berapa lama lagi rumah ini barus selesai.

Itu tantangannya.

Ingat, selama-lamanya, semolor-molornya, proyek rumah tinggal kita, tidak akan pernah lebih lama dari pada waktu kita menempatinya. Rata2 proyek rumah berjalan sekitar 1 - 1.5 tahun...dan seperti yang saya ungkapkan untuk rumah mewah, 1.5-2 tahunan...sementara, kita paling cepat, tinggal didalam rumah tersebut, 5-10 tahun, bahkan untuk rumah besar, biasanya kita sudah akan rencanakan untuk 'mewarisinya' ke anak2 kita.

Lalu, apa artinya, kita berhati2 dalam finishing rumah kita, agar kualitas pekerjaan menjadi sempurna?  Se 'lambat2nya' pekerjaan desain yang berhati2..tidak akan merugikan kita...

Jadi, kualitas, sebenarnya, adalah hal yang paling penting, walau kita terpaksa mengorbankan waktu....

* lambat disini dimaksud pekerjaan yang berhati2 yang tidak dapat di 'buru'2, bukan keterlambatan karena kesalahan manajemen proyek. (foto dari sini)


Monday

Pemilik Proyek dan Desainer













Pemilik Proyek:

"Saya membutuhkan seorang arsitek dan interior desainer untuk rumah impian saya. Saya bersusah payah menabung dan mencicil rumah ini sampai bertahun-tahun kedepan. Saya ingin anak dan pasangan saya menikmati rumah ini, aman didalamnya, berfungsi semestinya, dan menjadi kebanggaan kita kepada orang disekitar kita. Rumah ini adalah bagian dari kehidupan saya. Saya berharap mendapatkan seorang desainer yang dapat mewujudkan impian saya ini"

Desainer:

"Saya menginginkan seorang klien yang dapat mewujudkan desain dan imajinasi saya. Saya berhadap proyek ini dapat menjadi masterpiece saya, dimana teman-teman sesama profesi mengaguminya, dan media mengangkat karya saya menjadi karya yang terbaik dan populer. Saya belajar dan bekerja bertahun-tahun dengan imbalan yang sederhana agar suatu saat dapat menghasilkan sebuah karya yang dapat dibanggakan, dan memberi inspirasi kepada desainer muda, karya ini adalah sebagai hasil buah pemikiran dan karakter saya sebagai desainer"

(foto dari sini)


Kontraktor = Tenaga Ahli




















Bila kita sedang mencari kontraktor untuk proyek rumah tinggal kita, kita biasanya mencari beberapa kontraktor untuk melakukan pengajuan biaya pembangunan. Dan dari biaya tersebut, kita mencari (biasanya) yang termurah. 

Pertanyaanya, apakah murah berarti lebih baik?

Bila memang harga yang menjadi patokan, lalu, bagaimana prestasi kontraktor berpengalaman dan handal dapat diakui? Apakah bila ia lebih handal berarti besar kemungkinan mendapatkan proyek besar? apakah proyek kecil, berarti bukan proyek murah?

Memang pada dasarnya kontraktor harus memberikan prakiraan biaya pembangunan dan waktu pelaksanaannya. Tetapi, mereka juga mempunyai "harga" sesuai dengan kualitasnya. Karena, apapun jenis bisnisnya, makin baik kualitasnya, bisa dikatakan makin tinggi harganya, atau memerlukan volume yang banyak, agar mendapatkan harga yang bersaing...

Poin dari tulisan ini adalah, hati-hati dalam menilai perhitungan  sang kontraktor...murah tidak selalu berarti lebih baik, dan mahal pun, tentu kita tahu, harus ada 'dasar'nya.

Sayangnya, kontraktor yang berpengalaman dengan tukang yang baik, terkadang sulit untuk mengatakan kepada kita, "team saya bagus dan berkualitas, mereka saya bayar lebih tinggi dari tukang biasa". atau juga berkata "keahlian kontraktor nanti akan terlihat, dalam mengatasi sebuah masalah, dan kemampuan finansial, bila anda 'telat' membayarnya"...

Dan untuk saya, seorang desainer, kontraktor yang baik adalah: mereka yang dapat mewujudkan keinginan saya. Yang berarti, mewujudkan keinginan klien.

Tanpa kontraktor yang handal, desain sehebat apapun, akan kacau. Bahkan untuk arsitek kelas dunia pun, kerap dipusingkan oleh kontraktor.

Bila kita sangat tergantung kepada mereka, maka, wajar, bila kontraktor yang handal...ada 'harga' nya.